Main Article Content

Abstract

Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) merupakan salah satu wujud paling nyata dari strategi hilirisasi nikel Indonesia dan transformasi industrialisasi berbasis sumber daya alam. Artikel ini menganalisis perkembangan IMIP sebagai kawasan industri terintegrasi yang menghubungkan pertambangan nikel, pengolahan logam, infrastruktur energi, logistik, dan rantai pasok global stainless steel serta baterai kendaraan listrik. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analitis berbasis studi literatur, kunjungan lapangan, dan diskusi dengan pemangku kepentingan, artikel ini menunjukkan bahwa IMIP telah mengubah Morowali dari wilayah periferal menjadi pusat industri nikel strategis dunia. Integrasi vertikal dalam kawasan memungkinkan peningkatan nilai tambah domestik, penciptaan lapangan kerja, perluasan ekspor manufaktur, dan penguatan posisi Indonesia dalam ekonomi mineral kritis global. Namun, keberhasilan tersebut juga menghadirkan tantangan signifikan, terutama ketergantungan pada energi batu bara, tekanan lingkungan, keselamatan kerja, urbanisasi cepat, ketimpangan sosial, serta keterbatasan transfer teknologi nasional. Temuan artikel menegaskan bahwa masa depan IMIP tidak hanya ditentukan oleh skala produksi dan investasi, tetapi oleh kemampuan Indonesia membangun industrialisasi yang lebih dalam, rendah karbon, inklusif, dan berbasis inovasi. IMIP dengan demikian menjadi cermin penting bagi arah baru pembangunan industri Indonesia.

Keywords

hilirisasi nikel IMIP industrialisasi rantai nilai global keberlanjutan

Article Details

How to Cite
Nugroho, H., Mendatu, A., Al-Wafiy, M., Widiatmoko, U., Rhiza Amrizal, M. D., & Muhyiddin, M. (2026). Model IMIP, Hilirisasi Nikel dan Masa Depan Industrialisasi Indonesia. Bappenas Working Papers, 9(3), 157 - 170. https://doi.org/10.47266/bwp.v9i3.614

References

  1. Amsden, A. H. (2001). The rise of “the rest”: Challenges to the West from late-industrializing economies. Oxford University Press.
  2. Asian Development Bank (ADB). (2023). Indonesia’s downstream mineral industry and industrial transformation. Asian Development Bank.
  3. Chang, H.-J. (2002). Kicking away the ladder: Development strategy in historical perspective. Anthem Press.
  4. Gereffi, G., Humphrey, J., & Sturgeon, T. (2005). The governance of global value chains. Review of International Political Economy, 12(1), 78–104. https://doi.org/10.1080/09692290500049805
  5. International Energy Agency (IEA). (2024). Global critical minerals outlook 2024. International Energy Agency.
  6. Mudd, G. M. (2010). Global trends and environmental issues in nickel mining: Sulfides versus laterites. Ore Geology Reviews, 38(1–2), 9–26. https://doi.org/10.1016/j.oregeorev.2010.05.003
  7. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). (2019). Global material resources outlook to 2060: Economic drivers and environmental consequences. OECD Publishing.
  8. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). (2023). Industrial decarbonisation and carbon border adjustment policies. OECD Publishing.
  9. United States Geological Survey (USGS). (2025). Mineral commodity summaries 2025: Nickel. U.S. Geological Survey.
  10. World Bank. (2020). The contribution of the mining sector to socioeconomic and human development. World Bank.
  11. PT Indonesia Morowali Industrial Park. (April, 2026). PT Indonesia Morowali Industrial Park. https://imip.co.id/

Most read articles by the same author(s)