Main Article Content

Abstract

Kebijakan hilirisasi mineral dalam satu dekade terakhir menjadi salah satu strategi utama pemerintah Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat basis industrialisasi nasional. Melalui kebijakan ini, pemerintah mendorong pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri sehingga aktivitas ekonomi tidak lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Meskipun demikian, sejauh mana kebijakan hilirisasi mampu mendorong transformasi ekonomi di tingkat daerah masih menjadi pertanyaan penting dalam literatur pembangunan ekonomi, khususnya di wilayah yang sebelumnya bergantung pada sektor pertambangan.
Artikel ini menganalisis peran pengembangan kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dalam mendorong transformasi ekonomi regional, penciptaan lapangan kerja, serta multiplier effect terhadap perekonomian wilayah. Penelitian menggunakan pendekatan analisis campuran yang menggabungkan analisis deskriptif terhadap perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), analisis laju pertumbuhan ekonomi daerah, model regresi ekonometrik sederhana untuk menguji hubungan antara output industri dan penyerapan tenaga kerja, serta interpretasi multiplier effect berbasis kerangka input–output. Data yang digunakan terutama berasal dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) serta berbagai laporan terkait perkembangan industri di kawasan IMIP selama periode 2014–2024.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan industri pengolahan nikel di kawasan IMIP telah mendorong perubahan struktur ekonomi Kabupaten Morowali secara signifikan dari ekonomi berbasis pertambangan menuju ekonomi industri pengolahan. Pertumbuhan ekonomi Morowali secara konsisten berada jauh di atas rata-rata nasional maupun provinsi, sementara kontribusi wilayah tersebut terhadap perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah meningkat secara signifikan hingga mencapai hampir setengah dari total PDRB provinsi pada periode terbaru. Analisis ekonometrik menunjukkan bahwa peningkatan output industri memiliki hubungan yang kuat dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja, sedangkan analisis multiplier effect menunjukkan bahwa ekspansi industri pengolahan menciptakan keterkaitan ekonomi yang luas dengan sektor-sektor lain seperti konstruksi, transportasi, perdagangan, dan jasa.
Temuan ini menunjukkan bahwa hilirisasi mineral berpotensi menjadi instrumen penting dalam mendorong industrialisasi dan transformasi ekonomi regional apabila didukung oleh investasi industri, pembangunan infrastruktur, serta penguatan keterkaitan industri domestik.

Keywords

hilirisasi mineral industrialisasi daerah transformasi ekonomi regional multiplier effect Indonesia Morowali Industrial Park

Article Details

How to Cite
Muhyiddin, M., Mendatu, A., Amrizal, M. D. R., & Wahyuningrat, J. (2026). Dapatkah Hilirisasi Mineral Mendorong Transformasi Ekonomi Daerah? Bukti dari Indonesia Morowali Industrial Park. Bappenas Working Papers, 9(2), 256-273. https://doi.org/10.47266/bwp.v9i2.559

References

  1. Auty, R. M. (Ed.). (2001). Resource abundance and economic development. OUP Oxford.
  2. Badan Pusat Statistik. (2024). Kabupaten Morowali dalam angka 2024. BPS Kabupaten Morowali.
  3. Badan Pusat Statistik. (2024). Sulawesi Tengah dalam angka 2024. BPS Provinsi Sulawesi Tengah.
  4. Badan Pusat Statistik. (2023). Produk domestik regional bruto menurut lapangan usaha Indonesia 2014–2023. BPS.
  5. Badan Pusat Statistik. (2021). Tabel input-output Indonesia 2016. Badan Pusat Statistik.
  6. Hirschman, A. O. (1958). The strategy of economic development.
  7. Hund, K., La Porta, D., Fabregas, T. P., Laing, T., & Drexhage, J. (2020). Minerals for climate action.
  8. International Energy Agency. (2023). The role of critical minerals in clean energy transitions. IEA.
  9. Jenkins, R. (2013). One thing leads to another: Promoting industrialisation by making the most of the commodity boom in Sub-Saharan Africa. The European Journal of Development Research, 25(5), 847-848.
  10. Kaldor, N. (1967). Strategic factors in economic development.
  11. Krugman, P. (1991). Increasing returns and economic geography. Journal of Political Economy, 99(3), 483–499.
  12. Leontief, W. (Ed.). (1986). Input-output economics. Oxford University Press.
  13. Lewis, W. A. (1954). Economic development with unlimited supplies of labour.
  14. Lin, J. Y. (2011). New structural economics: A framework for rethinking development. The World Bank Research Observer, 26(2), 193-221.
  15. Månberger, A., & Stenqvist, B. (2018). Global metal flows in the renewable energy transition: Exploring the effects of substitutes, technological mix and development. Energy Policy, 119, 226-241.
  16. Moretti, E. (2010). Local multipliers. American Economic Review, 100(2), 373–377.
  17. Perroux, F. (1955). Note sur la notion de pôle de croissance. Économie Appliquée, 8, 307–320.
  18. Porter, M. E. (1998). Clusters and the new economics of competition (Vol. 76, No. 6, pp. 77-90). Boston: Harvard Business Review.
  19. Rodrik, D. (2016). Premature deindustrialization. Journal of Economic Growth, 21(1), 1–33.
  20. Sovacool, B. K., Hook, A., Martiskainen, M., Brock, A., & Turnheim, B. (2020). The decarbonisation divide: Contextualizing landscapes of low-carbon exploitation and toxicity in Africa. Global Environmental Change, 60, 102028.
  21. UNIDO. (2022). Industrial Development Report 2022: The future of industrialization in a post-pandemic world. UN.
  22. World Bank. (2023). Indonesia economic prospects: Harnessing the power of critical minerals. World Bank.
  23. Zhang, F., Gallagher, K. S., Deng, M., Liu, H., Orvis, R., & Xuan, X. (2025). Assessing the Policy Gaps for Achieving China’s Carbon Neutrality Target. Environmental Science & Technology, 59(34), 18124-18133.