Main Article Content
Abstract
Industri nikel Indonesia telah mengalami transformasi fundamental dalam satu dekade terakhir melalui kebijakan hilirisasi yang mendorong pergeseran dari eksportir bijih mentah menjadi pusat pengolahan dan pemurnian nikel terbesar di dunia. Dengan menguasai sekitar 40 persen cadangan nikel global dan menyumbang lebih dari dua pertiga produksi tambang dunia, Indonesia kini menempati posisi strategis dalam rantai pasok mineral kritis yang mendukung transisi energi global. Esai ini menganalisis struktur industri nikel Indonesia dari sektor hulu, pengolahan, hingga hilir, serta mengevaluasi kedalaman rantai nilai, struktur korporasi, dan tantangan strategis yang dihadapi. Kajian menunjukkan bahwa hilirisasi telah berhasil meningkatkan kapasitas pengolahan melalui pembangunan smelter berbasis teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan High Pressure Acid Leach (HPAL), sehingga menghasilkan berbagai produk bernilai tambah seperti feronikel, nickel pig iron (NPI), stainless steel, dan mixed hydroxide precipitate (MHP). Namun demikian, sebagian besar aktivitas industri nasional masih terkonsentrasi pada produk antara, sementara penguasaan teknologi, inovasi, dan akses pasar global masih banyak berada di tangan perusahaan multinasional. Selain itu, industri nikel nasional menghadapi tantangan berupa kelebihan pasokan global, ketahanan cadangan mineral, tuntutan dekarbonisasi, serta kebutuhan penguatan kapasitas teknologi domestik. Oleh karena itu, keberhasilan hilirisasi perlu dilanjutkan melalui pendalaman industri, pengembangan ekosistem baterai dan kendaraan listrik, pembangunan industri rendah karbon, serta penguasaan teknologi nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pemilik cadangan nikel terbesar dunia, tetapi juga menjadi pusat nilai tambah, inovasi, dan manufaktur berbasis nikel yang berdaya saing global.
Keywords
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License. Copyright © Bappenas Working Papers
References
- Asosiasi Penambang Nikel Indonesia. (2026). APNI report April 2026. https://www.apni.or.id/apni-report/april-2026
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2021). Grand strategy for mineral and coal: Direction for upstream and downstream development. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2025). Statistik pertambangan mineral dan batubara Indonesia 2025. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
- Nugroho, H., Al-Wafiy, M. (2026). Evolusi industri nikel global dan Indonesia: Tinjauan historis dan pelajaran kebijakan. Bappenas Working Papers, 9(2), 236–255. https://doi.org/10.47266/bwp.v9i2.560
- Nugroho, H., Mendatu, A., Widiatmoko, U., & Muhyiddin. (2026). From resource abundance to industrial constraint: Managing upgrading and structural dependencies in Indonesia’s nickel value chain. International Journal of Research and Innovation in Social Science, 10(14). https://doi.org/10.47772/IJRISS.2026.1014MG0098
- Nugroho, H., & Widyastuti, N. L. (2026). Hilirisasi pertambangan dan masa depan industrialisasi Indonesia: Pembelajaran historis dan rekomendasi strategis. Bappenas Working Papers, 9(2), 215–235. https://doi.org/10.47266/bwp.v9i2.558
- Shanghai Metals Market. (2026, March). Metal prices and market data. https://www.metal.com/
- Widyastuti, N. L., Widiatmoko, U., & Nugroho, H. (2026). Downstream industrialization and the future of Indonesia's resource-based economy: Resource nationalism, value addition, and structural challenges. Jurnal Perencanaan Pembangunan: The Indonesian Journal of Development Planning, 10(1), 51–65. https://doi.org/10.36574/jpp.v10i1.836