Main Article Content

Abstract

Periode 2026–2029 menempatkan Indonesia pada fase penentuan dalam pengelolaan bonus demografi. Di tengah awal pemerintahan Prabowo Subianto, pasar kerja Indonesia menunjukkan kinerja yang secara statistik tampak stabil, ditandai oleh meningkatnya partisipasi angkatan kerja dan menurunnya tingkat pengangguran terbuka. Namun, di balik capaian tersebut tersimpan tantangan struktural yang semakin nyata. Dominasi pekerjaan informal, meningkatnya proporsi pekerjaan tidak penuh waktu, serta stagnasi pekerjaan formal mengindikasikan bahwa penciptaan kerja belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kualitas dan produktivitas.


Artikel ini menyajikan Outlook Ketenagakerjaan Indonesia 2026–2029 dengan menempatkan dinamika demografi, partisipasi kerja, struktur pendidikan tenaga kerja, dan kerentanan pekerjaan dalam satu kerangka analisis pembangunan. Berbasis data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dan diperkaya dengan literatur ekonomi pembangunan serta pembelajaran regional, artikel ini menunjukkan bahwa tantangan utama Indonesia telah bergeser dari sekadar job creation menuju job upgrading. Dalam konteks dunia kerja yang semakin volatil, tidak pasti, kompleks, dan ambigu (VUCA), kebijakan ketenagakerjaan yang hanya berfokus pada penyerapan tenaga kerja berisiko menghasilkan stabilitas semu.


Lebih lanjut, artikel ini menegaskan pentingnya reformasi kebijakan pasar kerja melalui penguatan sinergi antara Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) dan Active Labor Market Policies (ALMP) sebagaimana diarahkan dalam RPJMN 2025–2029. Tanpa pergeseran paradigma menuju penciptaan pekerjaan yang layak, produktif, dan adaptif, bonus demografi berisiko berubah dari peluang historis menjadi beban struktural. Outlook ini pada akhirnya menawarkan refleksi strategis tentang pilihan kebijakan yang akan menentukan apakah Indonesia mampu mengonversi momentum demografi menjadi fondasi menuju pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan.

Keywords

bonus demografi kualitas pekerjaan pasar kerja Indonesia Active Labor Market Policies (ALMP) Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP)

Article Details

How to Cite
Muhyiddin, M., Amrizal, M. D. R., & Wahyuningrat, J. (2026). Outlook Ketenagakerjaan Indonesia 2026–2029: Dari Bonus Demografi ke Tantangan Kualitas Pekerjaan. Bappenas Working Papers, 9(1), 113 - 129. https://doi.org/10.47266/bwp.v9i1.540

References

  1. Asian Development Bank. (2022). Asian development outlook 2022: Mobilizing taxes for development. ADB.
  2. Badan Pusat Statistik. (2026). Buklet Sakernas Agustus 2025. BPS Indonesia.
  3. Badan Pusat Statistik. (2025). Keadaan Pekerja di Indonesia Agustus 2025. BPS Indonesia.
  4. Badan Pusat Statistik. (2024). Keadaan Pekerja di Indonesia Agustus 2024. BPS Indonesia.
  5. Badan Pusat Statistik. (2023). Keadaan Pekerja di Indonesia Agustus 2023. BPS Indonesia.
  6. Considine, M. (2011). Enterprising states: The public management of welfare-to-work. Cambridge University Press.
  7. Djojohadikusumo, S. (1993). Perkembangan pemikiran ekonomi: Dasar teori ekonomi pertumbuhan dan ekonomi pembangunan. Jakarta: LP3ES.
  8. International Labour Organization. (2019). Work for a brighter future: Global Commission on the Future of Work. ILO.
  9. International Monetary Fund. (2023). World economic outlook: Navigating global divergences. IMF.
  10. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2022). Indonesia employment outlook 2023. Kemnaker.
  11. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2023). Indonesia employment outlook 2024. Kemnaker.
  12. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2024). Indonesia employment outlook 2025-2029. Kemnaker.
  13. Krugman, P. (1994). The myth of Asia’s miracle. Foreign Affairs, 73(6), 62–78. https://doi.org/10.2307/20046929
  14. Lewis, W. A. (1954). Economic development with unlimited supplies of labour. The Manchester School, 22(2), 139–191. https://doi.org/10.1111/j.1467-9957.1954.tb00021.x
  15. Muhyiddin, Fefta Wijaya, A., Putra, F., & Wike. (2024). Indonesia’s Job Loss Insurance Program (JKP): Evaluating Challenges and Opportunities for Worker Welfare and Market Integration. The Journal of Indonesia Sustainable Development Planning, 5(3), 266-277. https://doi.org/10.46456/jisdep.v5i3.634
  16. Muhyiddin, Fefta Wijaya, A., Putra, F., & Wike. (2025). Active Labor Market Policy in Indonesia: Challenges of the Pre-Employment Card, Wage Subsidy, and Job Loss Insurance Programs. Jurnal Perencanaan Pembangunan: The Indonesian Journal of Development Planning, 9(2), 221-239. https://doi.org/10.36574/jpp.v9i2.695
  17. Nitisastro, W. (1970). Population trends in Indonesia. Cornell University Press.
  18. Organisation for Economic Co-operation and Development. (2023). OECD employment outlook 2023: Artificial intelligence and the labour market. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/08785bba-en
  19. Putra, F., & Sanusi, A. (2019). Analisis Kebijakan Publik Neo-Institusionalisme: Teori dan Praktik. Depok: Pustaka LP3ES.
  20. Rodrik, D. (2016). Premature deindustrialization. Journal of Economic Growth, 21(1), 1–33. https://doi.org/10.1007/s10887-015-9122-3
  21. Sen, A. (1999). Development as freedom. Oxford University Press.
  22. Standing, G. (2011). The precariat: The new dangerous class. Bloomsbury Academic.
  23. Stiglitz, J. E. (2012). The price of inequality. W. W. Norton & Company.
  24. World Bank. (2019). World development report 2019: The changing nature of work. World Bank. https://doi.org/10.1596/978-1-4648-1328-3
  25. World Bank. (2023). Indonesia economic prospects: Boosting productivity. World Bank.