Main Article Content

Abstract

Partisipasi warga dalam pembangunan telah lama menjadi permasalahan. Meski telah diakomodasi dalam proses pembangunan, kelompok rentan mungkin masih belum terperhatikan. Untuk menghilangkan hal tersebut, perhatian khusus perlu diberikan dengan memanfaatkan pendekatan inklusif dalam proses pembangunan. Makalah ini menggunakan pendekatan yang disebut Symbio-City untuk membuat proses pembangunan lebih inklusif, dengan mengambil proyek peningkatan daerah kumuh sebagai kasus. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa alat pendekatan relevan, sekitar setengahnya telah dimasukkan ke dalam proyek. Belajar dari keseluruhan proses, pendekatan Symbio-City tampaknya efektif tetapi mahal. Menerapkannya pada skala proyek mengharuskan pengguna untuk memilih beberapa alat yang relevan dengan proyek tertentu dan meninggalkan alat 'tidak relevan' lainnya. Namun, pendekatan tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih efektif dan efisien dalam skala yang lebih besar, seperti dalam program yang terdiri dari beberapa proyek. Hasilnya kemudian dapat diakumulasikan untuk digunakan dalam berbagai program/proyek di masa depan dengan beberapa modifikasi.

Keywords

kelompok rentan pembangunan kota inklusif Symbio-City perbaikan daerah kumuh Kota Yogyakarta

Article Details

How to Cite
Salim, A., Irriani, S. N., & Hapsari, Y. R. (2022). Implementasi Pendekatan Symbio-City pada Pembangunan Inklusif: Studi Kasus Slums Upgrading di Kota Yogyakarta. Bappenas Working Papers, 5(2), 241 - 269. https://doi.org/10.47266/bwp.v5i2.114

References

  1. Andersson G., Roux J. & Ordbidarna. (2014). SymbioCity process guide, insearch of synergies for sustainable cities. SKL International
  2. Chaerul M, Tanaka M, Ashok V. Shekdar AV. (2007). Municipal Solid Waste Management in Indonesia: Status And the Strategic Actions. Journal of the Faculty of Environmental Science and Technology, Okayama University Vo1.l2, No,I, pp.41•49.
  3. Comino, E. dan Ferretti, V. (2016). Indicators-based spatial SWOT analysis: supporting the strategic planning and management of complex territorial systems. Ecological Indicators, 60. pp. 1104-1117. ISSN 1470-160X
  4. Kamim, A.B.M., Amal, I., dan Khandiq, M.R. (2019). Problematika perumahan perkotaan di kota Yogyakarta, jurnal sosiologi USK, Vol. 13 No. 1, Juni 2019
  5. Kuran, C., Kruke, B.I., dan Torpan, S. (2020). Vulnerability and vulnerable groups from an intersectionality perspective. International Journal of Disaster Risk Reduction 50 (2020)
  6. Masruroh, F., Maulani L., dan Anisa. (2021). Kajian prinsip universal design yang mengakomodasi aksesibilitas difabel studi kasus taman Menteng, dalam journal fakultas teknik universitas Muhammadiyah Jakarta, diakses 9 Juli 2021, journal.ftumj.ac.id/index.php.semnastek
  7. Neuwirth, R. (2005). Shadow cities: a billion squatters, a new urban world. New York: Routledge
  8. Pratama, A. dan Jamil, M.H. (2020). The kotaku: study of the national slum upgrading program sustainability in coastal areas, dalam Russian journal of agricultural and economic sciences, November 2020
  9. Prayitno, B. (2017). Cohabitation space: a model for urban informal settlement consolidation for the heritage city of Yogyakarta, Indonesia, Journal of Asian Architecture and Building Engineering/ September 2017/ 534
  10. Raharjo, W. (2010). Becoming prosperous: informal urbanism in Yogyakarta dalam Dovey, K. (2010) Becoming places: urbanism/ architecture/ identity/ power. London: Routledge
  11. Ranhagen, U. & Groth, A. (2012). SymbioCity approach, a conceptual framework for sustainable urban development. SKL International
  12. Soto, H.D. (1989). The other path: the invisible revolution in the third world. New York: HarperCollins
  13. UNISDR Terminology on Disaster Risk Reduction (2009)